Lelaki di halte Busway
January 28, 2007, 7:00 pm
Filed under:
Curhat
Sudah kali ketiga bertemu dengannya…
Pertemuan yang berakhir dengan hal yang sama…
Saling melempar pandangan ingin tahu
Dan senyuman ingin mengenal
Tinggi? Hmm.. 180
Rambut agak spikey
Kulit putih bersih
Pakaian kantor rapi jali
Kalo diem aja manis
Pas senyum…Yah, bias ditebak lah
Hmm…Kali keberapa yah aksi saling lempar2an pandangan dan
senyuman ini bisa berakhir ke aksi saling berjabat tangan?
I like Monday, 7 am
Busway sheltered, Pulo Mas
- g -
Akhirnya “jebol”…Dan gw jadi bingung…
January 25, 2007, 7:56 pm
Filed under:
Curhat
Akhirnya…”jebol” juga tuntutan anak2 untuk bisa ambil
skripsi semester ini. Kebanyakan sih pada lega (terutama Andy sebagai pelopor
sekaligus tumbal, hehehe…), tapi ternyata ga sedikit juga yang malah jadi
bingung. Karena setelah di jabarin sama ketua program gimana sibuknya kita-kita
nanti kalo beneran ambil skripsi, sedangkan metodologi skripsi kita nanti juga
baru akan dipelajarin semester ini juga, bisa jadi kita ngerjain skripsi
kebut2an sama ngikutin mata kuliah Kualitatif dan Kuantitatif yang bakal jadi
metode skripsi kita.
Akhirnya, walaupun sebagian besar (termasuk gw) mengambil
semua mata kuliah termasuk skripsi, ternyata banyak juga anak2 yang tetep
ngelepas skripsi untuk semester depan (terutama yang udah pada gawe).
Jujur gw juga jadi agak bingung. Masalahnya gw juga udah gawe,
ada 1 mata kuliah yang ngulang (dan itu mata kuliah yang termasuk sulit),
tambah lg Kuali dan Kuanti yang juga susah, tambah lagi Seminar yang pasti
bikin sibuk, tambah lagi skripsi yang butuh ekstra perhatian, blm lg ngejar2
dosen pembimbing & hrs rajin ke perpus cari bahan. Kalo semua gw kerjain
bisa abis nih badan gw!! Sempet kepikiran juga apa gw lepas juga ya skripsi
semester ini? Tapi kata Penasehat Akademis gw diambil aja, tp nothing to lose
juga prinsipnya. Yang penting fokus sama mata kuliah yang ngulang, Kuali &
Kuanti (krn kalo gw ngelalain 3 mata kuliah itu & malah bersibuk2 ria sama
skripsi trus gw ga lulus salah satu dari 3 mata kuliah itu, akhirnya skripsi gw
ga bakal bisa dikelarin juga karena untuk bisa skripsi hrs udh lulus ketiga
mata kuliah itu (bingung
kan
?
Pasti bingung, hehehe…). Jadi kalo ada tenanga sisa ya kerjain skripsi, kalo ga
kuat ya lepas buat semester depan. Toh yang penting gw udah ada basic-nya, udah
tau gimana jalannya bimbingan, udah nemu topik skripsi, start-nya udah duluan. Jadi
kalaupun gw lepas, semester depan skripsinya bisa dikerjain lebih nyantai…
Yah, lega lah intinya. Walaupun mulai detik ini ngga ada
kalimat “berleha-leha” lagi dalam hidup gw karena kuliah udh mau mulai. Thanks banget
buat abang sekaligus sahabat sekaligus musuh sekaligus partner gila-gilaan gw;
Andy. He’s the pioneer, tapi dia juga yang harus kena tumbal kena omel sama
ketua program (dan terancam di black list juga karena cara dia protes udah pake
ngancem bakal disebarin ke media segala). Gue juga bingung kenapa jadi Andy
yang tadi malem ngucapin makasih sama anak-anak karena udah mau dukung dia
protes ke Ketua Program. Padahal sebenernya justru Andy yang ngerealisasiin keinginan
sebagian besar anak-anak.
Ndul, tengkyu banget ya bang…Walaupun sebenernya gw blm tau
apa gw bakal bener2 struggle untuk nyelesein skripsi semester ini.
*tambah pusing*
- g -
Numpang marah
January 24, 2007, 7:38 pm
Filed under:
Curhat
Gila…UI emang udah gila!! FISIP
sih sebenernya yang gila..Tapi sebenernya UI juga gila sih. Ya gitu lah
pokoknya!!
Masa gue harus bayar berjuta-juta
semester ini cuma buat ngikutin 2 mata kuliah??
Padahal sisa SKS gw tinggal 18
(udah sama skripsi), I could have take all subjects if that fuckin head of Communication
Department didn’t say that the 18-SKS’s should be divided in 2 terms!!!
Gilaaaaaaaaaa……………Delapan juta cuma
buat ngelarin 5 mata kuliah, yang harusnya bias dikelarin dengan 4 juta aja.
Udah gitu kemaren, dengan muka
super demek habis ngantor, gue udah smangat 45 dateng kekampus mau ketemu dosen
PA, tiba2 gw ngeliat temen2 gw lg pada ngumpul untuk ngomongin soal protes dan
ngangkat masalah keboborokan manajemen Departemen Komunikasi FISIP UI ini ke
media (scara temen2 gw banyak yg udah kerja jadi kuli tinta, tinggal minta
waktu 10 menit wawancara, kelar, besok terbit di Koran, slese deh!), lumayan
buat “nampar” petinggi2 UI itu supaya itu otak agak dibenerin lagi ke jalan
yang lurus. Masa pendidikan jadi ajang pemerasan juga, sapa yang sudi? They really
messing up with the wrong student! Scara yang dikerjain anak2 komunikasi, belum
tau mereka giman kalo tukang2 ngemeng (baca: Public Relations) kaya kita bisa memutarbalikan
fakta dengan lumayan mudah. Dan itu kan emang salah mereka sendiri waktu rapat
pembuatan kurikulum baru, terjadi kesalahan pengaturan mata kuliah, efeknya
jadi harus mecahin 4 mata kuliah ke 2 semester, imbasnya kita-kita (ortu2 kita
lebih tepatnya) yang harus ngerogoh kocek (bahkan mungkin beberapa harus ada
yang sampe cari pinjaman ke bank atau tetangga2) lebih untuk bayarin anaknya
kuliah 2 mata kuliah AJA!! Kacrut banget…
Udah akhirnya kemaren pulang
kerumah dengan tangan kosong karena nunggu tanggapan dari ketua program dulu. Sial
banget deh gw, rencana mau nginep dikosan malah LUPA BAWA KUNCI KAMAR!!! Sial
siaaalll….besoknya harus kerja lg, ga bawa baju. Mana kondisi udah OSTS banget
(Otak Sisa Tenaga Sisa). Untung gw pulang bareng Andy, gw pikir2 ada bodyguard
lah kalo seandainya gw molor dengan suksesnya di Patas 84. Eh ternyata jadinya
malah ngobrol panjang lebar sama dia, jadilah sampe rumah gw tambah tepar…Untung
dia cakep, ga malu2in amatlah buat digandeng *damai Ndul, hehehe*
Dan hari ini harus ke depok lg
nuntut kepastian. Punya secretariat ngga guna. Ditanya mereka malah jawabnya gatau
(ga peduli lebih tepatnya), sampe di cecar sama Andy yang udah kesel banget,
“Lo ditanya ini gatau, ditanya itu gatau…Kalo gitu buat apa loe kerja
di Sekre kalo ga bisa bantu?? Goblok banget!!”
Emang bener, perasaan waktu gw masih
kuliah D3 Sekrenya ngga gitu2 amat, emang Sekre S1 ini adalah sekre terGOBLOK yang
pernah gw temuin!!!
Uuuughhhh…mana PMS gw sekarang lg
pada puncaknya!!! Bikin esmosssiiiii….Loe pikir duit segitu banyak bisa nyabut
dari pohon??
[Rabu, 24.01.07 @ Takor, UI (Universitas InsyaAllah)]
- g -
I see you
Mengintip gundah di balik tirai abu-abu
Selepas perkataanmu yang memilukan, menyayat asa dan
membiarkannya terbang tanpa panduan
Yang penting kehadiranmu aman
Ditemani dalam selimut kebohongan dan segelas ketakutan
berwarna perak mengawang
Namun aku telah melihatmu…
(August 00, Kamar Sang Tercinta)
Mengetuk raga terjaga dalam kematian
Bahkan tak menggubris teriakan para munafik yang
berpura-pura kehilangan
Dilatari goresan angin sembilu dan cahaya jingga matahari
Memilukan…
Hanya inikah yang tersisa dari persahabatan?
Kau bahkan tega membiarkanku menangis bersama robot-robot
berkepala manusia ini
Memalukan!!
Sekarang kita berada di alam berbeda, merenda kasih dengan
Dewa Malam yang tak lagi sama
Namun aku telah melihatmu
(Jan 01, TPU Budie Darma)
Dengan bola mata menatap layaknya pandangan Cleopatra
Menyibak diri, membuka raga dan menawarkan jasa
Kau kupu-kupu malam penuh kenikmatan
Sang Approdite dengan rambut terurai sehalus sutra
India
Mengabulkan mimpi…Membuai lelaki
Kau berkata itulah sejatinya dirimu
Namun aku telah melihatmu…
(Okt 04, Taman Lawang)
“Saya terima nikahnya
Rhiny Anggraini dengan seperangkat alat shalat dan sejumlah mahar yang telah
tersebutkan, tunai!”
Dengungan syukur menggema di tiap sudut dinding yang dingin
Kau bersalaman dengannya…
Menatap matanya dan menerima janji sucinya dengan tawa
Namun aku telah melihatmu…
(Dec 05, Masjid Al-Musyawarah)
Masih terasa hangat hembusan nafasmu di telingaku
Menggaungkan serentetan kalimat surga bertautan cahaya
membahana
Au berhasil menyentuh sisi paling rapuh dalam ke”ada”anku
yang tak terjangkau mata
Sial…Dan aku pun percaya
Tiba-tiba si bodoh ini tersadarkan bahwa ia baru saja
dijerumuskan ke dalam neraka
Yang terbalut dengan rapih dan hati-hati seperti segundukan
piramid indah yang meruncing dan tajam
Atas nama cinta yang sebenarnya tak pernah ada
Namun aku telah melihatmu…
(Dec 06, Tanjung Priok)
Terima kasih untuk Sang Waktu yang berkolaborasi dengan
Tuhan dan menciptakan kondisi “sakit hati” dan “pendustaan”, hingga – sampai detik
ini – aku tak berhasil melihat diriku sendiri…
(Jan.22.07 – Wisma Bakrie 2)
*Ditemani Sang caffeine…Satu hal yang mungkin paling nyata di dunia*
This writing is inspired By Djenar Maesa Ayu’s novels
- g -
Karma
January 21, 2007, 6:50 pm
Filed under:
Poems
Kau akan
menangis untukku
Saat
aku menoleh dan menebarkan satu senyuman
Dan
saat itu mereka akan datang…
Lalu
mengatakan “Sudah waktunya pulang”
Kau akan
menangis karenaku
Saat
kaki terdengar berat melangkah
Dan
diri tak jua sudi berpisah
Wajah
basahnya kini menengadah
Dan
suara kecil berdesah,
“Kau telah
berhasil membuat hatiku terpecah dan terbelah”
Kau akan
menangis didepanku
Memungut
satu demi satu serpihan duka yang berserakan
Sambil
bersenandung lagu kematian yang terdengar sangat jauh serupa lirihan…
“Dan
nafasnya tertahan…
Kau
meninggalkanku dalam kegelapan
Bersama
segumpal daging, darah yang membeku dan tulang belulang
Kau
menghilang…
Setan
membawamu terbang
Meninggalkanku
sendirian, wahai wanita jalang!
Oh, kematian…
Senang
rasanya bila saat itu datang”
Kau akan
menangis mengenangku
Mandi
dalam kubangan darah yang menghitam
Menghirup
udara yang tak sama denganku
Dan
terus memimpikan malaikat kematian di kala malam
Dengan
sayap-sayap patahnya yang kaku
Terdiam
dan mendengarmu berseru,
“Kembalikan wanita
itu padaku, malaikat jahannam!
Tak perlu
kukatakan bahwa dia milikku!”
Kau akan
menangis memanggilku
Tak
terasa sudut matamu berkerut
Senada
lapisan kulit pipimu yang mengeriput
Dan
berat tubuhmu yang kian menyusut
Kau
menjadi tua dalam nestapa
Pedih
tak terperi… Luka tak terkata
Adalah
saat dimana aku akan tertawa… Lepas dan bahagia
Kau akan
selalu menangisiku
Bergumul
dengan penyesalanmu
Sebagai
akibat kau sudah menyia-nyiakanku bersama waktu
Selama
sisa hidupmu, ternyata…
Kau
telah bercumbu dengan Sang Karma.
[Kelapa
Gading, 20.01.07
Berbincang
hangat dengan hujan yang dingin, sore itu di beranda atas rumah…]
- g -
…Silence…
January 15, 2007, 2:25 am
Filed under:
Poems

Some say that silence is gold
Some may say that silence is
wise
Some also say that silence is a
foolness
But for me, silence is
fear…
- g -
Akhirnyaaa…. (Hahahahaha…)
Bwuahahahahahaha!!!!!
Akhirnya ada juga yang
berhasil buat gw ngakak sampe sakit perut minggu ini!! Gw harus tau nih alamat
blog cowo kocak ini, gw wajib kenal sama dia…WAJIB!!! Hahahaha…ngga bakal
stress deh deket2 dia…
Just read it and u’ll find
out just how funny he is! Be ready to laugh crazily ^-^
- g -
Artikel ini diambil dari
sebuah blog seorang cowo alumni ITB.
On
1/10/07, Taufiq Nugroho <taufiq.nugroho@ acergy-group. com> wrote:
Gua,
Motor Gua, dan Wanita-Wanita di sekeliling Gua
Tuesday,
December 19, 2006
Jaman
kuliah dulu, gue naik motor. Setidaknya di ITB, motor adalah
faktor
yang menseparasi pria dari…uhm.. .pria lain. Intinya,
setidaknya,
tahun 96, cowok yang punya motor di ITB (lumayan) jadi
dambaan
wanita.
Sayangnya
yang kerap menjadi dambaan adalah motornya karena motor ini
menjadi
alat bagi cewek-cewek ITB untuk nebeng dan minta anter. Pemilik
motornya
sendiri tetap tidak mengalami perbaikan kasta atau nasib dalam
asmara.
Singkatnya,
kita-kita di sipil96 yang punya motor sering diminta
cewek-cewek
untk minta anter mereka. dan berhubung cewek sipil hanya 20
dari
160 populasi, jelas segala permintaan mereka kita penuhi.
"Dit,
gue nebeng!"
"Oke!"
di
mana kata nebeng itu tertukar dengan wording ‘minta anter’ karena
definisi
nebeng adalah sejalan arah kos gue DAN BUKAN nun jauh di
pinggiran
Bandung.
"Dit,
anterin gue ke rumah sakit!"
"Beres!"
Meski
pun penyakitnya menular dan seperti dia, gue ikutan meriang 3
hari.
"Dit,
jemput ade gue di SMP!"
"Jam
berapa?"
Di
mana sesampainya di SMP itu, gue baru nyadar gue belum tahu tampang
itu
anak kek gimana.
But
all in all, kita sayang sama cewek-cewek sipil ini dan tidak pernah
ada
kata tidak untuk melayani mereka. Tapi tetep aja entah kenapa gue
selalu
kena kasus. berikut adalah kasus-kasus yang paling parah yang gue
pernah
alami.
Dengan
Wiwin
Kita
sebut saja namanya Wiwin karena kalo sampe ketauan nama aslinya
dalam
blog ini, riwayat gua bisa tamat. Wiwin adalah wanita berkacamata
tebal
dengan otak yang lebih tebal lagi. IPKnya terancam 4. Wiwin adalah
juga
atlet yang tergabung dalam pelatda voli JABAR. Dia punya tangan
yang
cukup kuat untuk serve voli…dan kalo nampar cowok, itu cowok bisa
melintir.
Gua suka boncengin dia pulang karena dengan begini gue bisa
nodongin
dia dengan,
"Eh
Win, adit sekalian fotokopi catetan Wiwin yah."
Wiwin
secara reluktan mengiyakannya dengan syarat, dalam proses fotokopi
itu,
dia ikut sama gue nongkrongin tukang fotokopian dan sang catetan
selalu
ada dalam jarak pandang dia. Ini adalah hikmah dari pengalaman
buruk
di mana catetan dia dipinjem gak jelas berpindah seribu tangan dan
saking
putus asa nyari, dia harus belajar dari fotokopian catetan dia
sendiri.
Bagi gue, berdiri samping-sampingan dengan Wiwin di toko
fotokopian
adalah situasi yang awkward. Gimana gak awkward? Apa sih
topik
yang bisa lu omongin sama cewek, kalo di depan lo ada orang minang
keringetan
gak pake baju megang-megang mesin fotokopian?
Anyways
di suatu hari yang windy (faktor angin memegang peranan penting
dalam
plot cerita ini) gua nganter Wiwin pulang. karena banyak angin,
suara
yang keluar dari mulut gua selalu terbawa angin.
"Win
gue motokopi catetan ya!"
"Apa?"
"Gue
minjem catetan lo!"
"Hah?"
"GUA
MINJEM CATETAN LOOOO!!"
"ADUH
NGOMONG YANG JELAS KEK!"
Halah!
Emang sih gue kan ngomong sambil merhatiin jalan jadi mulut gue
ke
depan dan gak ke muka dia yang di leher gue. Akhirnya gua balik badan
dan
bilang lagi. Sayangnya, entah kenapa gua lagi memproduksi banyak air
liur
di saat itu. Sayangnya lagi, ini terjadi di saat angin bertiup
kencang.
Sooooo gue balik badan, buka mulut lebar-lebar dan..
"GUE
MINJE..PLUEEHHH. …."
crooot
Angin
mengantarkan saliva gue ke kacamata wiwin. Itu gak terlalu wiwin
masalahin
karena SEBAGIAN BESAR liurnya kena ke sisa muka yang kacamata
gak
cover.
She
never spoke ever since.
Dengan
Titin
Lagi-lagi
nama samaran. Titin ini rada ganjen. Kalo ke kondangan dia
selalu
nyalon. Entah kesamber jin apa, suatu hari dia minta anter gue ke
salon
dan ke kondangan setelah dari salon. biar efisien, tuturnya.
ya
sudah gua turuti itu kemauan. Setelah berkarat nungguin di salon, dia
muncul
dengan sanggul yang indah menawan. gua rasa kalo orang lempar
jeruk
ke sanggul itu, bisa nyangkut.
"Gimana,
cakep gak?"
"Mirip
roro kidul Tin."
"Monyet.
Udah buruan ke resepsi! yang cepet ya!"
gua
udah kek budak aja. di sini terjadi sesuatu yang Titin gak pernha
maafin
gua sape sekarang, meski kalo gue bilang, itu salah dia.
dia
kos di simpang (bandung utara).
Nyalonnya
di simpang.
Undangannya
di gedung kartini (bandung selatan) dia minta cepet.
Ya
udah, gue ngebut dong!
Sayangnya
ini berbuntut di mana kita pergi dengan Titin tampak seperti
finalis
putri indonesia dan sampai di resepsi terlihat seperti singa.
"ADUH
RAMBUT GUE! ELU SIH DIT!"
"Makanya
gua bilang PAKE helm!"
"gua
kira kalo helm, sanggulnya rusak, jadi jelek!."
"gak
pake helm jadi singa. Tuh."
"Benci
gua sama elu! Benci! Benciiiiiiiiiiiiiii i!!"
Dengan
Mimin
Untuk,
lagi, alasan keselamatan, gua gak akan mereveal nama dia. Suatu
hari
gua sekelompok sama dia dan kita harus ngerjain paper nih
ceritanya.
Singkat cerita, anggota lain pada egois dan gak kerja. Cuman
gua
dan Mimin aja yang ngerjain di rumah dia di bilangan kuburan
Ciputra.
paper selesai dan 10 menit lagi kuliah paper itu dikumpulin.
"DIT!
AYO KITA CEPETAN!"
"AYO!"
"NGEBUT
YA!"
"LU
PEGANGAN MA GUA!"
"NAJIS!"
(Cewek-cewek sipil ini selalu teguh menjaga iman mereka).
Adalah
kebiasaan mereka untuk memegang handle di belakang ketimbang
melingkarkan
tangannya di supir. Tapi yo wis, gue juga gak keberatan.
Pasaran
gue juga bisa turun. Akhirnya gua ngebut! tapi tertahan di lampu
merah
kuburan. Percakapan di bawah terjadi dengan mata gua liat ke depan
dan
hanya denger suara dia.
"Min,
kita harus bener-bener ngebut nih. tau sendiri Bandung. Sekali
kena
merah, sampe 5 lampu ke depan kena merah juga."
"Ya
udah ngebut! Eh bentar tas gua jatoh."
"Udah
Min?"
"Bentar."
"Ijo
Min!"
"Nah,
…"
"OKE!"
Gua
langsung kebut itu motor!
Gue
salip semua mobil di pasar suci!
Gua
ngesot di tikungan telkom!!
Gue
jemping depan UNPAD!
Gue
terabas lampu merah simpang dago!!
Gue
turun kek orang gila sepanjang dago!!
Gue
ampir nabrak kuda di ganesa!
Akhirnya
masuk juga parkiran sipil.
Abis
ngerem, gue bilang,
"Gimana
motoran sama James Bond? Min? Min?"
gue
ngeliat ke belakang dan Mimin lenyap.
Keesokan
harinya, di rumah sakit boromeus…
"Gua
gak ngerti Min.."
"Lu
gak ngerti bagian mana dit? bagian yang elu ngajleng dengan gua baru
setengah
pantat? ato bagian gue ngegelinding di perapatan jalan?"
tukasnya
jutek dengan tangan yang retak.
"Tapi
kan gua udah bilang ijo! dan lu udah bilang ‘NAH’!’
"NAH
itu maksud gue baru mau duduk lagi."
"tapi
kan!"
"Sudah
lah! gua bingung manusia kek lo bisa masuk ITB."
Wah,
kecerdasan dia bawa-bawa. padahal kalo mau cerdas dikit, dia megang
gue.
Itulah
sekelumit cerita gua, motor gua, dan wanita-wanita yang
ngegelinding
karena motor itu. Yang jelas sejak itu demand menurun
drastis.
Imbasnya adalah bahwa Oyep, temen gue, menjadi idola ke 20 anak
itu
untuk dianter ke mana-mana. berkorelasi dengan itu, IPK gue menurun
dan
IPK Oyep naik secara fantastis. Oh nasib.
betapa takkan terlelahkannya diriku, olehnya…
January 15, 2007, 2:15 am
Filed under:
Curhat
Aufa: "Cance…cini main cama Aufa!"
Iwed: "Tante lagi masak, sayaang…Nanti masakannya gosong. Main sama nenek aja yah!"
Aufa: "Ngga mau…Nenek ga bica joged. Aufa mau nyanyi cama cance…"
Iwed: "Habis tante masak aja yah…Mau kan?"
Aufa: "Cance macak apa?"
Iwed: "Masak ayam goreng buat kamu…"
Aufa: "Aufa dak mau…"
Iwed: "Lho, kenapa sayang?"
Aufa: "Ntal kata bang cici kena plu buyung…Ntal Aufa bica punya cayap kaya ayam!"
Dan
berderai lah tawa satu keluarga di salah satu rumah di daerah perumahan
Sukapura itu…Betapa tak akan lelahnya aku saat berdekatan dengan
bidadari kecil ini dan menghirup aroma baby oilnya dan tersibak geraian
rambut ikalnya yang persis seperti boneka-boneka yang aku miliki saat
umurku menginjak tiga..
- g -
Why?
January 15, 2007, 2:09 am
Filed under:
Curhat
Tetap tidak bisa dimengerti -
bahkan sampe detik ini - kenapa selalu ada saja jarum di sela-sela kain
sutra yang membalut dan memanjakan tubuhku?
- g -
Carry that burden, no matter what..
Frodo Baggins: I wish the ring had never come to me. I wish none of this had happened.
Gandalf the Grey: So
do all who live to see such times. But it’s not for them to decide. All
we have to decide is what to do with the time that is given to us
[One of the best quotes. From the movie Lord of The Ring; The Fellowship of The Ring]